Antara Papan Tulis dan Beranda: Esai-Esai Pendidikan, Literasi, dan Kehidupan Sosial-Digital
| Penulis | : | Thoriq Tri Prabowo |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | x + 131 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 170 gram |
Berangkat dari pengamatan, pengalaman, dan refleksi penulis sebagai akademisi, buku ini merekam dinamika pendidikan, literasi, serta kehidupan sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Melalui bahasa yang renyah namun tetap kritis, pembaca diajak menelusuri beragam isu, mulai dari kebijakan pendidikan, budaya literasi, kecerdasan buatan, media sosial, penyebaran hoaks, hingga tantangan membangun nalar kritis di era banjir informasi. Meski lahir dari konteks yang berbeda-beda, setiap bab menawarkan perspektif yang tetap relevan untuk memahami perubahan zaman sekaligus merefleksikan pengalaman bersama sebagai masyarakat.
Di balik kritik yang disampaikan, buku ini berangkat dari optimisme dan kecintaan terhadap dunia pendidikan, literasi, serta harapan akan lahirnya masyarakat yang lebih cerdas, bijaksana, dan manusiawi. Buku ini tidak menawarkan jawaban yang final, melainkan mengundang pembaca untuk berpikir, berdialog, bahkan berbeda pendapat. Sebab, di tengah laju teknologi yang terus bergerak, pendidikan, membaca, berpikir kritis, dan kemampuan membangun ruang dialog tetap menjadi fondasi utama kehidupan bersama.
Stok Kosong
Antara Papan Tulis dan Beranda: Esai-Esai Pendidikan, Literasi, dan Kehidupan Sosial-Digital
| Penulis | : | Thoriq Tri Prabowo |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | x + 131 hlm. |
| ISBN | : | - |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 170 gram |
Berangkat dari pengamatan, pengalaman, dan refleksi penulis sebagai akademisi, buku ini merekam dinamika pendidikan, literasi, serta kehidupan sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Melalui bahasa yang renyah namun tetap kritis, pembaca diajak menelusuri beragam isu, mulai dari kebijakan pendidikan, budaya literasi, kecerdasan buatan, media sosial, penyebaran hoaks, hingga tantangan membangun nalar kritis di era banjir informasi. Meski lahir dari konteks yang berbeda-beda, setiap bab menawarkan perspektif yang tetap relevan untuk memahami perubahan zaman sekaligus merefleksikan pengalaman bersama sebagai masyarakat.
Di balik kritik yang disampaikan, buku ini berangkat dari optimisme dan kecintaan terhadap dunia pendidikan, literasi, serta harapan akan lahirnya masyarakat yang lebih cerdas, bijaksana, dan manusiawi. Buku ini tidak menawarkan jawaban yang final, melainkan mengundang pembaca untuk berpikir, berdialog, bahkan berbeda pendapat. Sebab, di tengah laju teknologi yang terus bergerak, pendidikan, membaca, berpikir kritis, dan kemampuan membangun ruang dialog tetap menjadi fondasi utama kehidupan bersama.
Stok Kosong